Semisal syair kugubah engkau. Rimbun kata membunuh resah saat bening mata hunjam dada. Intikad mimpi kuhela jua. Entah, inikah anugerah cinta?
Aku semata pena! Segurat tinta kujadikan kalam. Telimpuh harap pada huruf-huruf yang bermesraan. Umpama sufi merunut doa di malam-malam tua. Terpukau hayat membaca kalimah rindu dalam ayat-ayat sepi, kuterjemahkan dengan napas. Ijab gemintang sepertiga malam meminang langit dengan cahaya dari jantung putihnya.
Aku dan engkau adalah dua jiwa tak hirau raga menuju langit yang sama, meski berbeda awan. Segulung mendung bukan gelap halang pandang. Di antara dua kening ada bulan sedang purnama. Izinkan kukecup bibirmu sebelum hujan patahkan rindu di sudut mata!
Lasusua, 1 Maret 2017
