Duhai Puan …
Jangan kaupatahkan rintik gerimis
di senja ini, biarkan basah membasuh dahaga jiwaku. Singgahlah sejenak mengurai
senyum, jangan pilu. Mari berkarib dengan angan! Bukankah dunia kita telah
menjadi mimpi sejak cawan kejujuran pecah setara beling.
Duhai Puan …
Jangan hempas aku dengan senyum
setara badai dari bibir yang mengulum mendung. Akan kuruntuhkan belantara
hatimu serupa gerimis yang jatuh di punggung ilalang. Maka ketika rinduku
mendenting, terkapar pada wangimu yang puitis. Lunglai kita bersandar pada satu
peluk dalam kata serupa mantra.
Duhai Puan ...
Jangan gendingkan rindu bila
jiwamu hanya sekelumit asa, pantang kupinang bulan yang hilang purnama. Sebab,
dengan apa kuwarnakan pelangi seusai hujan jika tanpa kemilau cahayamu?
Maka kuburkan saja pilu di selasar gulanaku tanpa ragu.
Luwu, 15 April 2017
