Mawar Setangkai

 


Engkau mawar menyimpan wangi mengakar rapuh pada gembur tanah hitam. Lahir dari pernikahan dua musim. Mekar memukau pagi, rekah menyulam siang, tidur memeluk embun ketika malam mengirim dingin.

Terlipat warna pada lembar-lembar kelopakmu, di sana kautawan harapan sang pemuja. Seberapa purnama kauabdikan diri pada tatap pengelana sesat?

Engkau dan aku akrab berbagi riwayat yang luka, tentang kucur darah telapak penggenggam terpikat fana. Namun, kubiarkan angin menjadi jarak. Tak akan kudekap tawa berujung pilu.

Wahai mawar setangkai!
Dosakah mata menebar sangka pada runcing di sekujur tangkai? Jika durimu selindung kutuk, biar kuterpasung hasrat dalam belukar paling sepi sampai menjadi batu.

Lasusua, 8 Maret 2017