Metafora Air Mata

 


Kembali mengais kata pada belukar bibirmu duhai perempuan di balik tirai. Kudapati duri sedang menuding air mata yang baru saja retak bulirnya di ujung telunjuk, salah siapa?

Mendung senja tadi menuntunku kepada jejak gerimis yang katamu adalah karang, akh rapuh jua! Kemudian, dengan gigihnya sang hujan menikam malam hingga pagimu berdarah. Lihai kausembunyikan merah luka pada reruntuhan purba di mataku.

Kubalut air matamu dengan secarik awan yang kutenun dari putihnya rindu. Bersandarlah dalam peluk pada gemuruh teluk dadaku, mendung masih menyimpan dendam pada kemarau.

Jika saja esok, hujan lebih runcing dari malam itu. Ajak bibirmu meneduhkan diri di ceruk paling sendu, hatiku. Berdamailah dengan kelumit mimpi yang tak menemu ujung di keterasingannya. Di sanalah aku!

Luwu, 01 September 2017