Pejalan Sunyi

 

malam-malam duka di langit kesatu

atas hilangnya kuasa purnama

ketika ranting-ranting tiada bersemi

mata air tak mengalir

sebab hujan telah mati

sayapku tak kuasa menebas angin

musnah harapan untuk pulang

menemui hitungan-hitungan rumit

di ujung jari para pendosa

yang sekarat di langit kedua

 

malam-malam duka di langit ketiga

atas hilangnya dingin embun

pada sebuah belahan jantung putih

bertobat atas dosa kelopak-kelopak mawar

yang terselip dengan khidmat di tubuh

yang lelah membilang ingatan

yang berdenyut di dada langit keempat

 

pada pekat awan di langit kelima

entah seperih apa rindu bernyanyi

bibir beku dengan wajah putus asa

lidah ditumbuhi bunga-bunga salju

 

pada sebuah jendela di langit keenam

tampak taman biru di punggung gunung

hijau rerumputan dan kembang-kembang belukar

helai rambut meneduhi bulan mei yang mulai lembap

duhai, lagu yang mana hendak kaunyanyikan untukku?

kausibak gaun cakrawala di langit ketujuh

berjalan pelan di antara senyuman yang panjang

memberi sejuk kepada kering daun-daun kemboja

aroma setanggi melembutkan tanah-tanah pasir

yang diam-diam menyelimuti tidur putihku

dan tahun-tahun cahaya menjadi bara

 

“sepertinya,

aku terbakar api yang rindu

ikhlas mengabu di ujung padam!”

 

Luwu, 28 April 2019