kutinggalkan dermaga itu
saat laut kian bergelombang
dan buih bernyanyi kasmaran
mengantar sisa-sisa matahari
dalam pelayaran menuju nun
kukayuh biduk layarnya setik
ditenun ibu dari benang putih
pada sepertiga malam bening
“di atas hening samudra ini, Tuhan
kubayangkan rindu sepanjang cakrawala
berduyun-duyun dari laut hingga ke gunung
mengikuti bayang-bayang sunyi.”
tubuh hanya perca mambang sore
memungut ronce di ubin samudra
tak pasai menyeka wajah nan sansai
menyeduh lidah dalam genang liur
“Tuhan, siapa aku
selain serpih daging luka
pembungkus tulang
gemetar cemas di gerbang malam-Mu?”
sebentar lagi biduk berlabuh
di perkampungan air mata
Luwu, 12 Januari 2019
