kepada langit kutanyakan rindu
dengan kata-kata penuh bisu
agar kupahami segala biru
menggigil dan ragu-ragu
sejak mula kata langit telah kujunjung
awan, bintang, bulan, dan matahari tak pernah paham
apa yang kurindui tak ia rindukan
yang tak kurindui ia rindukan
: perkampungan asing!
apa yang kaupahami pada sebutir air yang kupungut dari sisa gerimis di punggung rerumputan?
apa yang kaupahami pada angin semilir yang mengembus hingga ke jantung merahmu juga ke jantung putihku?
sebutir air dan angin semilir
kugenggam manakala ragaku batu tergeming hening di malam bening tanpa denting
rindu yang bisu, yang biru, yang ragu-ragu kubawa berlayar di atas biduk selembar kumulus menujumu
: melaju seperti takdir!
ketika kemuning menukik jatuh di
atas pasir dermaga senja
engkau benar-benar telah menjadi langit
istana tempat segala sajakku telentang membuang impian
dan, tidurlah aku!
