di bawah percik air mata
ia berjalan menuju mata air
tempat danau-danau menyusu
saat matahari rebah perlahan
bayang-bayang dan cahaya
berkejaran di atas bangkai daun kering
yang mati tertusuk runcing jarum jam
di bawah langit merenung
ia mengikuti awan berayun-ayun
melahirkan gerimis bercericit putus-putus
langkahnya terus saja mendekat ke batas barat
menerobos lengang senja dan malam-malam sepi
di dadanya tersemat rindu yang ganjil
hendak memetik selembar cendawan bulan
; ia persembahkan kepada pengembara
yang tak akan kembali pulang
Luwu, 23 Maret 2019