Menuju Nun

 


kuingin terbang ke awang-awang

saat wajahmu menyaput belahan bulan

biar tanpa sayap di bahuku

 

bilangan daun gugur

menjelma ombak putih-putih

di sela puisi-puisi belia

 

setapak jalan menuju nun

terbentang di kedua telapak tangan

di sana kita bermain-main dengan waktu

manakala hujan luruh di manik-manik mata

pertanda musim semi bertandang di bibirmu

dan engkau tersenyum lalu berkata,

”telah kaudekap hayat dan napasku

 sebelum pagi bertamu cahaya di lekuk pasir!”

 

sejak itu tumbuh sayap di lenganku

tapi kesepian tetap saja selalu menghampiri

“karena wangi napasmu, aku menjadi pertapa yang mabuk!” 

kuusap wajah di celah hujan

siang dan malam berlalu dalam satu detik

lembar-lembar senyummu memutih di rambutku

 

Luwu, 23 Desember 2018