duhai air mata
kautawan napasku
dalam mihrab hening
hanya bisik gerincing nadi
“wajahmu percik-percik darah
mata air yang bertapa di jantungku!”
duhai air mata
langkahmu menepi
menerka-nerka sunyi
meniti sembilu di tirus pipi
“wajahmu pecah-pecah cermin
mata pisau yang semadi di tubuhku!
haruskah mati sepasang sepi
di ujung sayap kupu-kupu
sehelai dan sehelai
bernisan debu
Luwu, 1 April 2019