hari beranjak malam
kuajak buku puisiku ke pesisir
“mari bercerita dan minum anggur!”
tiada yang tahu di mana dukaku kini
semenjak bulan menjadi hamparan debu
“ombak berbuih putih di bawah cahaya separuh purnama mengingatkanku padamu!”
andai saja dapat kutulisi permukaannya,
ingin kugoreskan sebait puisi engkau di sana
dan riak-riak bergelembung adalah majas
yang tak mesti diterjemahkan.
jika puisi adalah kesetiaan agung
kulebur diri di kedalamannya
hingga kutemukan
betapa kurindu engkau
dengan kata-kata berserakan
di empat penjuru angin
Luwu, 26, Maret 2019