Di Ujung Mata Sembilu

 


Sepuluh gendewa melesatkan seribu panah menuju dada ini tidak akan membuatku menyerah kepada nasib.  Tak lagi kumampu menghitung luka membilang pilu karena rindu yang telah menyisakan sayat dalam hayat, haruskah pahit kukatakan manis hanya untuk mengelak dari kenyataan?

Maka biarlah engkau menjadi hujan yang datang sesaat lalu hilang terlupa musim, sementara engkau tahu napasku di ujung mata sembilu ketika tiadamu. Lalu, di mana senyum kaualamatkan?

Apakah kita hanya selembar mimpi yang lunglai di dua sisi setelah rasa kasih berselisih dengan cemburu?
Padahal kaulumat habis selaksa kulum senyumku sebelum kejora menggelanting di bulu mata!
Itukah yang kausebut cinta nan agung?

Luwu, 18 September 2017