Angin dan Malam

 


Duhai angin!
Ke mana sepoimu saat malam menepikanku di pojok tersunyi? Sepoi yang akrab membawakanku kabar tentang mitos indahnya lembah sunyi tilam sang pemimpi.

Duhai angin!
Apakah engkau tak lagi menjadi gembala yang mengiring kawanan angan, ketika mendengar percakapan daun dan embun tentang surga para pencinta yang memuja rindu?

Duhai angin!
Engkau tak lagi peduli pada malam renta, maka biarkan kucari sendiri pesan rindunya di balik belukar gelisah. Kujadikan alur pada sajak-sajak romansa yang kutulis, mengalir di nadi asmara menjadi sungai tempat kumandikan segala gelisah perajam hati.

Duhai angin!
Malam telah menepikanku di pojok tersunyi, tahukah engkau rasanya tertikam sepisau rindu?

a

Luwu, 22 September 2017