Kita Tak Sedang Berelegi

 


Ketika bulan mulai rebah di pangkuan malam tua, aku masih sibuk merajut sajak-sajak romansa di seludang angan yang hendak mekar di ambang pagi. Engkau masih saja serupa garis-garis patah di geming lamunanku, gerangan apa mimpi pertanda?

Dingin menemani penaku berseloka tentang igau jangkrik berkelakar dengan embun yang beranjak dewasa, takkan kubiarkan ia jatuh di punggung daun gugur. Walau mata berpintal tangis, meski bibir bersulam pucat. Engkaulah rindu yang kuanyam dari lembut kumulus memuja purnama!

Mengapa kita tak jemu bersengketa dengan cemburu?
Bahkan bertikai dengan kata, “Akh!”

Kekasihku, mendekatlah!
Biar kukecup keningmu itu, mengusir jejak pilu agar kisah tak lara.

Kita tak sedang berelegi!

Luwu, 28 September 2017