Setia yang Luka

 


Tidakkah engkau rindu pada pipi yang memerah usai kukecup kedua matamu?

Akh, betapa ranumnya ketika dengan sedikit senyum lalu menunduk malu serupa aster memungut embun di awal cahaya.

Segenggam asa yang kemarin kutitip pada wangi kelopak  hati kini tinggal bercak-bercak biru meleleh lurupi dinding ingatan berwarna cemburu. Pilukah yang mesti kaukabarkan kepadaku lewat bibir teja di senja itu?

Ketika pagimu mulai lupa menafsir mimpi-mimpi malam

Mungkinkah ini pertanda bahwa kita tengah berdiri di atas cermin retak. Yang sebentar lagi menyerpih serupa beling menancap pada setiap pijakku.

Kepada engkau yang kupanggil kekasih!
Walau cinta sejati itu tak ada, kusimpan engkau hingga ujung napasku.

Luwu, 22 September 2017