Kitab Hujan

 


Selembar sajak dalam kitab hujan kembali membasah di sunyiku ketika dingin menghunus risau pada ujung pena hingga aku tak kuasa lagi memilah diksi untuk menujum bayang. Telah kaurenggut keperjakaan rindu yang kusimpul di setiap ujung rambutmu, wanginya tergerai di lantai mimpi.

Jika gerimis mencipta lautan kata, maka engkau tinta yang tak pernah mengering! Dan baitku arus dua sungai senantiasa menuju engkau. Tertoreh dengan gemulai kisah tentang rindu pada bebatuan yang dilewatinya.

Dalam kitab hujan itu, kita masing-masing adalah sayung tirus bertemu ujung yang rebah melebur diri saat malam membentang jubahnya, dan purnama pun jengah mendengar rahasia percakapan derit ranjang sang perawan bertaruh desah.

Lasusua, 4 November 2017