Adalah Engkau

 


Purnama di bulanku seberapa cahaya jika kupendarkan di hatimu, biar terang seluruh ruang hingga pojok paling sunyi. Di sana aku menjadi pertapa dalam semadi teramat khusyuk, dan terlupa kita adalah dua jiwa yang menjelma satu.

Bintang di langitku seberapa kerlip bila kusematkan di matamu, biar kilau serupa laut bermandi jingga sampai merah paling senja. Di sana aku menjadi kelana meniti pada titian hari teramat renta, dan kusadari artimu tak semata jarum.

Embun di malamku seberapa sejuk jika kubasuhkan di keningmu, biar menetes hingga membasuh serautmu yang kemarau. Di sana kuharap basahnya menzahirkan anak-anak kasih yang berayun-ayun di pelupuk netra sebelum tidurku

Purnama, bintang, juga embun. Melebur diri dalam pergulatan rindu berjejak desah. Di pembaringan engkau dan aku, serta wangi tubuhmu.

Luwu, 26 September 2017