Perempuan Hujan

 


Kepada engkau perempuan yang kupanggil kekasih. Ternyata bukan mudah menghapus kenangan dalam ingatan, jejak-jejak pijak kaki kita tak tergapai oleh lidah ombak. Prahara musim itu tak mampu menutupi bekasnya yang hingga kini digenangi bening gerimis malam tadi.

Entah karena apa, terjagaku selepas fajar merah pamit dari timur tiba-tiba aku menjumpaimu dalam segelas kopi yang mengepul di tengah lagu pengantar bangunku. Aku curiga engkau sedang membaca puisi yang kutulis di atas potret hitam putih berbingkai kayu itu, hadiah dariku saat empat purnama kita mengembala Arcturus di teduhnya aurora

Haruskah kukatakan kepada embun pagi ini bahwa engkau adalah perempuan hujan yang hilang perawan di atas ranjang sunyi kemarinku? Hanya saja tanpa pelangi di ujung langit, ke mana mesti aku berkaca?

Luwu, 28 September 2017