Perawan Mimpi yang Hilang

 


Telah kucampakkan ragaku pada serpih bening kaca yang membeling. Kutakut luka itu terbaca angin, lalu dibisikkannya kepada langit. Awan menghitam marah!

Telah kuterlantarkan bayangku di sungai berhulu sunyi tanpa penghuni. Jika mata air menjadikannya hanyut, sengsaralah ia di ambang laut. Biarkan saja menemu takdir, pasrah!

Telah kurajam hatiku karena menyimpan secebis ingin yang melumat keperjakaan malam. Dan saat pagi menggurat cahaya, kuikhlaskan perawan-perawan mimpi berpamitan. Aku tak terpukau pada semburat yang saga meski emas, tetap kucintai malam walau hitam itu pekat.

Telah kulantakkan anganku di rongga karang yang tegak di hadapan pasir putih. Biar matahari yang api membakar hanguskan ingatan sampai leleh, semoga keteduhan senja menjadikannya cinta. Repih pun tiada mengapa.

Duhai perawan mimpi yang hilang!
Rindu hatiku seberapa cahaya jika kuselipkan di matamu?

Luwu, 8 September 2017