Sebungkus Harap

 


Di tingkap langit mana mesti kunujumkan pinta agar cinta melebur kasih ke dalam doa yang menikam malam-malam sunyi. Telah kuhambakan selaksa harap di bawah telapak-Mu pada sudut-sudut malamku yang bercermin air mata.

Adakah mesti aku mengabu raga di kedalaman laut-Mu, atau menjadi belulang tertinggal masa dalam tanah gelap itu?

Tuhan!
Di remah sabar telah kueja pongah. Katakan kepadaku, jika itu dosa lalu mengapa masih Engkau biarkan mimpi bertelanjang kasat membentang serupa benang layang mengikat napasku di ujungnya! Sementara di ujung lain Engkau gantungkan subungkus harapan begitu tinggi untuk kugenggam.

Jika saja lengkung senyum harus terzahir dari pahit empedu, ikhlas kutenggak berpuluh cawan sekehendak titah-Mu. Tetapi, tolong jangan beri seembun rindu! Kutak sanggup menatap beningnya.

Luwu, 17 Oktober 2017