Menjadi Karang

 


Dengan apa kumetaforakan senyum yang engkau kirim bersama layung teja seusai mendung berjelaga sore tadi. Sementara senja kian lihai menyulam bait-bait hujan yang tertunda, mungkin malam menolak basah di pelupuknya.

Kemarin engkau pergi sebagai perindu yang akan pulang dengan cinta, tapi mengapa prasangka masih bergelantungan di ujung lidah? Sudah kubilang, “Jangan hirau akan telingamu, dengarlah napasku pada helaan terakhir sebelum engkau membelakangi malam itu. Sebelum mimpi-mimpi menemukan ajalnya di mataku!”

Jika mesti berkaca pada keruh air mata, mengapa harus percaya kepada beningnya dusta? Kita jangan bersinonim dengan kupu-kupu bersayap indah tetapi rapuh!

Mari menjadi karang di hadapan badai hingga jerit terakhir tenggelam di putihnya pasir yang tertidur.
Sungguh sejatinya rindu memang sembilu!

 

Luwu, 21 September 2017