: bagian satu
dua butir kopi
hitam sewarna jelaga kehilangan bulan
selepas petang
gemercik lagumu
membalut cahaya yang mati di kaca jendela
tetapi kata-kata enggan berkabung
ia terus saja begemuruh dalam tubuh gelas
mencari jalan menembus dinding putih di halaman rumah tinta
penyair, menikmati aroma yang bernyanyi
di malam-malam tanpa mimpi
mengukir kenangan di bibir pada setiap teguk terakhir
sebagai tempat terindah mengubur rasa pahit
“Hai penyair, matamu serona purnama membaca tanda. Karena aku, ia terus menerangi rindu dan cinta dalam sajak yang tak pandai berbahagia!” ujar dua butir kopi.
penyair terus saja mengais belukar kata
mencari surga yang tersembunyi
setelah tanda koma dan sebelum titik
“engkau telah mengantarku hidup 1000 tahun lagi!”
bisiknya di telinga dua butir kopi
Luwu, 19 Januari 2019
