aku masih kecil ketika kaumenulis sajak
saat diksi berebut hendak menjadi malaikat
sebelum embun menggubah bait mendung,
dan hujan begitu gemar sembunyi di kening
duhai, mari berburu kata tanpa mimpi!
bunuh bayang-bayang tanpa dirundung takut
yang tak punya badan tapi hidup di celah bait
mengikuti pena saat menyalami lidah
“engkaukah hujan yang suka menyelinap di jendela
dari segala penjuru remang-remang?”
mungkin aku tak kecil lagi
maka kutulis sajak seperti kaumenulis sajak
saat kata menjadi tuhan setelah tuhan menjadi kata
bertahun-tahun mengembara serupa hantu dalam hutan
terpenjara dalam surga yang merdu mendayu-dayu
tetapi, kata-kata memilih pergi mencari takdirnya
berkelana di perkampungan sajak paling asing
meninggalkan aroma rambut di atas bantal
tak ada lagi rambut kubelai-belai sebelum tidur
“duhai kata, kurindu teduh mata dan lembut bibirmu
yang selalu basah oleh hujan patah-patah!”
Luwu, 15 Januari 2019


