Rindu Kata

 


aku masih kecil ketika kaumenulis sajak

saat diksi berebut hendak menjadi malaikat

sebelum embun menggubah bait mendung,

dan hujan begitu gemar sembunyi di kening

 

duhai, mari berburu kata tanpa mimpi!

bunuh bayang-bayang tanpa dirundung takut

yang tak punya badan tapi hidup di celah bait

mengikuti pena saat menyalami lidah

engkaukah hujan yang suka menyelinap di jendela

dari segala penjuru remang-remang?”

 

mungkin aku tak kecil lagi

maka kutulis sajak seperti kaumenulis sajak

saat kata menjadi tuhan setelah tuhan menjadi kata

bertahun-tahun mengembara serupa hantu dalam hutan

terpenjara dalam surga yang merdu mendayu-dayu

 

tetapi, kata-kata memilih pergi mencari takdirnya

berkelana di perkampungan sajak paling asing

meninggalkan aroma rambut di atas bantal

tak ada lagi rambut kubelai-belai sebelum tidur

duhai kata, kurindu teduh mata dan lembut bibirmu

yang selalu basah oleh hujan patah-patah!”

 

Luwu, 15 Januari 2019

 

Penyair dan Dua Butir Kopi

 


 : bagian dua

 

dua butir kopi bertamu di meja

sebutir melegakan dahaga pena

sebutir lagi menghibur sunyi kertas

dua butir kopi semakin aduh

saat melebur dalam gelas

 

“pada rasa pahit yang kautelan

selalu ada rindu menggoda untuk menyeruputku

tak perlu kautepikan ampas yang mengapung

ada diksi penuh kenangan kutitip di sana!” 

dua butir kopi hendak menjadi puisi bulan

pada seduhan amboi sebatang anak sendok

saat hujan sedang melagui pori-pori

 

kata-kata berenang  bersama kopi dan nasib penyair

yang termenung dalam buku puisinya

“telah kautelan mimpiku, kauhangatkan dingin pagi

membunuh malam rindu yang baru saja mati di ujung bait sepi engkaulah kekasih pemberian tuhan!”

 

padam hujan di matanya

pelangi bergelantungan di keningnya

 

Luwu, 18 Januari 2019

Penyair dan Dua Butir Kopi

 


: bagian satu

 

dua butir kopi

hitam sewarna jelaga kehilangan bulan

selepas petang

 

gemercik lagumu

membalut cahaya yang mati di kaca jendela

tetapi kata-kata enggan berkabung

ia terus saja begemuruh dalam tubuh gelas

mencari jalan menembus dinding putih di halaman rumah tinta

 

penyair, menikmati aroma yang bernyanyi

di malam-malam tanpa mimpi

mengukir kenangan di bibir pada setiap teguk terakhir

sebagai tempat terindah mengubur rasa pahit

 

“Hai penyair, matamu serona purnama membaca tanda. Karena aku, ia terus menerangi rindu dan cinta dalam sajak yang tak pandai berbahagia!” ujar dua butir kopi.

 

penyair terus saja mengais belukar kata

mencari surga yang tersembunyi

setelah tanda koma dan sebelum titik

“engkau telah mengantarku hidup 1000 tahun lagi!”

bisiknya di telinga dua butir kopi

 

Luwu, 19 Januari 2019